Underworld (Chapter 1)

by - 21.03.00


Ini benar benar hari yang sempurna untuk menikmati indahnya bumi. Sinar matahari sedang terasa begitu cerah. Pasti Helios sedang memiliki mood yang baik pagi ini. Kereta kencana emasnya telah diperbaiki oleh Hephaistos. Keretanya patah di bagian roda karena dipermainkan oleh beberapa Nimfa nakal. Hampir saja kereta itu ‘pensiun’ dari pekerjaannya sehari hari, mengantar Helios memandu matahari mengelilingi Gaia, sang bumi. Tak bisa dibayangkan bagaimana jika kereta kencana Helios benar benar tidak dapat digunakan lagi. Habislah dunia ini.
Aku berhenti melamunkan soal kereta kencana milik Helios dan mulai berjalan keluar dari kamar dan mengambil segelas air serta beberapa sendok madu di meja dapur. Lezat seperti biasa. Hmm. Bosan rasanya di rumah. Aku berjalan menuju jendela dan membukanya lebih lebar. Angin segar langsung meniup ramput di dahiku. Sepertinya akan menyenangkan kalau berjalan disekitar rumah. Aku berjalan menuju pintu depan rumah.
“Persephone, mau kemana kau?”, suara ibuku mengagetkanku.
“Aku hanya ingin jalan jalan sebentar kok, bu” aku tersenyum lembut. Ibu memang sangat protektif terhadapku.terkadang ibuku memperlakukanku seperti balita berusia 5 tahun ketimbang memperlakukanku seperti gadis berusia 20 tahun. Tapi aku sangat menyayanginya. Dan dia tentu sangat mengasihiku. Mungkin karena aku adalah putri tunggalnya sehingga dia begitu menjagaku dengan ketat.
“Berhati hatilah diluar sana, My dear Phony. Banyak hal buruk yang bisa terjadi padamu.”
Mom, aku 20 tahun dan aku bisa menjaga diriku sendiri.” Aku memanyunkan bibirku.
“Baiklah kalau itu maumu. Pulanglah bila petang menjemput.”
“Ya mom, aku takkan pergi jauh.”
“Rapikan dulu penampilanmu, sayang. Kau terlihat seperti baru bangun dari kandang ayam.”
Aku nyengir dan kembali kekamarku untuk mengambil selendang suteraku dan bersolek sedikit. Oh, Persephone, lihat, kulitmu pucat sekali. Apa ini efek dari kekurangan aktifitas diluar rumah? Entahlah. Dan, Oh! Lihat juga rambutmu. Berantakan bukan main. Demi Aphrodite, betapa mengenaskannya penampilanku. Aku menyisir rambut cokelat tembagakuku dengan jari jemariku. Nah, begini lebih baik. Aku mengalungkan selendang sutraku dan berjalan dengan riang keluar rumah.
Bau rerumputan segar langsung menyusup ke penciumanku. Hmm.. kemana aku harus pergi hari ini?
Aku berjalan menyusuri jalan setapak di depan rumahku. Bunga bunga tumbuh dan melambai dengan tenangnya. Kupu kupu hinggap kesana kemari mencari nektar disatu kelopak dan di kelopak lainnya. Cantiknya, aku jadi gemas dan berusaha mengejar kupu kupu itu sambil tertawa riang. Aku mengejar kupu kupu itu sampai ke ladang gandum yang mulai menguning keemasan. Aku terpesona dengna ladang itu dan kuputuskan untuk duduk sejenak di pinggir ladang gandum itu. Tidak sia sia ibuku selama ini bekerja. Ibuku adalah Demeter. Dia dewi pertanian yang dipuja seluruh manusia karena kemurahan hatinya. Setiap hari dia menumbuhlan berbagai bahan makanan pokok untuk manusia. Aku bisa menumbuhkan sedikit tanaman. Sedikit. Tidak sehebat ibuku. Ahh, aku bangga sekaligus iri sekali dengannya.
Sayup sayup aku mendengar ada yang memanggil namaku. Siapa itu? Aku menoleh kebelakang dan ternyata yang memanggilku adalah para Okeanid, Nimfa laut, teman lamaku.
“Persephone! Apa yang kau lakukan disini? Aku merindukanmu sayang!” para Okeanid berlarian menghambur dan memelukku. Mereka ada berlima, Nefra, Selle, Spore, Moure, dan Xero. Paras mereka hampir serupa namun aku masih bisa amembedakan mereka semua. Aku tertawa dipelukan mereka.
“Aku hanya sedang menikmati matahari saja. Aku terlalu bosan dirumah,” aku tersenyum sembari menjelaskan mengapa aku bisa ada di ladang ganduum ini.
“Apa ibumu tidak marah kau pergi bermain main seperti ini, Nona Rumahan?” Oh, sial. Moure sedang menyindirku. Aku tertawa kecut.
“Aku sudah meminta ijin, tentu saja, Nona Yang-Gemar-Kabur-Dari-Rumah” aku menjulurkan lidahku dan kita tertawa bersama. “Sebagai perayaan atas pertemuan tak terduga kita bagaiman kalau kita merangkai kalung bunga dan memakainya bersama sama? Itu pasti akan sangat menyenangkan!” jerit Selle kegirangan.
“Bagaimana kalau kita pergi ke Lembah Nysa saja? Bunga bunga disana jauh lebih indah di banding bunga yang tumbuh disini!”
“Yang benar saja, Xero! Lembah Nysa terlalu jauh dari sini. Lagi pula apa Persephone mau pergi jauh dari rumahnya?” Selle memprotes usulan Xero. Well, aku agak tersinggung sekarang.
“Ayo, Girls. Aku ingin membuktikan kepada kalian kalau aku bisa pergi sedikit jauh dari rumah. Dimana Lembah Nysa sialan itu berada? bawa aku kesana!” aku menantang para Okeanid itu.
“Apa kau serius, Persie? Kau mau ke Lembah Nysa bersama kami?” tanya Xero sedikit ragu.
Aku tertawa, “asalkan setelah kita pergi dari sana kalian tidak mengejekku makhluk rumahan lagi, Ya, aku mau. Dan satu lagi, jangan panggil aku Persie! Kau tahu aku benci itu.”
“Baiklah, kita akan pergi ke Lembah Nysa dan kita tidak akan lama di sana. Kita bisa merangkai kalung bunga dan kau juga dapat memetik bebrapa bunga untuk kau beri kepada ibumu. Bagaimana? Setuju?” tawar Nefra.
“Baik, aku setuju.” Aku tersenyum girang. Wow. Lembah Nysa. Seperti apakah tempat itu?
Kita mulai berjalan menuju Lembah Nysa. Jalan yang kami lalui agak asing untukku, namun aku sangat menikmati perjalanan ini. Pohon hijau tingi berdiri di kanan kiri jalan setapak ini. Sinar matahari keemasan menerobos masuk melalui sela sela dedaunan. Rerumputan tumbuh berjajar rapi dipinggir jalan ini. Hangat sekali hari ini. Aku tahu kita belum ada setengah perjalanan Tapi ini benar benar mengagumkan.
 Tiba tiba dari atas terdengar bunyi sayap berkepakkan. Aku menoleh keatas. Astaga, itu Eros. Apa yang dia lakukan disini dengan panah cinta konyolnya itu? Ada apa dengan pagi ini? Apa semua Dewa Dewi sedang dalam moodnya untuk pergi berjalan jalan keluar rumah mereka?
“Pagi, nona! Ada yang bisa kau lakukan untuk kalian?” Eros terbang merendah dan mendarat dengan mulusnya di hadapan kami sambil tertawa kekanakan. Dia memang Dewa muda yang ceria, tampan.. dan sedikit genit. Mungkin pembawaan dari ibunya, Aphrodite. Dewi kecantikan yang memang sempurna keindahan tubuh dan parasnya.
“Eros! Apa yang kau lakukan di pagi begini? Apakah kau sedang menguntit kami?” Spore bertanya sambil mengedipkan mata kearah Eros. Aduh, aku geli sekali melihat Spore yang sedang menggoda Dewa cinta.
“Sayang sekali, nona. Aku tidak ada waktu untuk mengikuti kemana kalian akan pergi. Maafkan aku harus mengecewakanmu dan kalian semua.” Eros mencoba memasang tampang menyesal tapi gagal dan aku tertawa melihatnya.
“Ahh, Persephone, kau disini juga rupanya. Apakah Demeter tidak melarangmu berpergian?” Eros bertanya dengan sopan namun tetap saja aku melihat kilatan humor di matanya. O ow.
“Ada apa dengan kalian? Aku 20 tahun, hey. Aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa berpergian tanpa harus melapor dulu kepada ibuku,” aku menggerutu sambil mengerucutkan bibirku. Sebal. Dan sialnya Eros malah menertawakanku.
“Jangan cemberut begitu, My Dear. Aku hanya bercanda. Nah, kemana kau mau pergi dengan para Okeanid ini, sayang?”
Please, Eros. berhentilah menggodaku.”
Eros nyengir lebar.
“Aku mau memetik beberapa bunga di Lembah Nysa. Menurut mereka –aku menunjuk para Okeanid- bunga di sana lebih cantik daripada bunga yang tumbuh di sekitar sini. Apa kau mau ikut?”
“Bukankah Lembah Nysa terlalu jauh dari rumahmu? Aku serius Persephone, jangan menatapku dengan tatapan jengkel seperti itu. Bagaimana kau akan pulang nanti?” Eros menatapku dengan sedikit cemas.
“Terimakasih Eros kau baik sekali mau peduli padaku. Para Okeanid akan mengantaku pulang nantinya. Jadi, apa kau mau ikut?”
“Aku rasa tidak, Persephone. Aku tidak mau mengganggu waktu kalian. Aku hanya mampir dan mau menyapa kalian saja.” Eros menolak dengan halus.
“Sayang sekali. Akan lebih menyenangkan kalau kau ikut. Selle pasti akan senang sekali.” Aku mebgedipkan mata ke Selle dan ia menjadi bersemu dan tertawa pelan.
“Mungkin kapan kapan aku bisa tapi tidak untuk saat ini. Maafkan aku, sayang.” Eros mengedipkan mata ke Selle dan aku bersumpah kalau Selle menganga lebar dan pipinya menjadi semerah apel. Oh, Boy. Eros benar benar penggoda sejati.
“Baiklah. Aku harus undur diri sekarang. Masih banyak tugas yang menantiku.sampai jumpa lagi” Eros tersenyum sopan. Kali ini benar benar sopan. Aku tersenyum balik padanya. Sebelum Eros terbang, dia memberi pesan kepadaku.
“Aku harap kamu berhati hati selama di Lembah Nysa, Persephone. Ada hal tak terduga yang mungkin akan mengubah hidupmu selamanya, manis. Dan aku harap kamu bisa memaafkanku bila kejadian itu akhirnya terjadi juga.”
Apa maksud kata katanya? Namun sebelum aku bertanya Eros telah mengepakkan sayapnya dan hilang dari pandangan mata. Selle bergegas menghampiriku.
Phony,apa yang ia katakan padamu?”
 “Entahlah. Aku juga tak mengerti, Selle”
Sepanjang perjalanan aku memikirkan kata kata Eros. Memang apa yang akan terjadi? Mengapa Eros meminta maaf padaku? Apa yang dia lakukan? Apa dia akan mengadu kepada ibuku kalau aku pergi hingga sejauh ini?
Tapi sesampainya Lembah Nysa semua pikiranku mengenai Eros hilang dan lnyap. Memang benar apa yang dikatakan Xero. Bunga disini benar benar cantik. Perpaduan warna merah, kuning, lavender seperti ada di taman Olympus. Bahkan mungkin lebih indah lagi. Tak menyesal aku pergi jauh dari rumah demi melihat lukisan alam seagung ini. Aku dan Nefra berlarian kesana kemari. Selendangku berkibar tertiup angin dan melambai dengan halusnya. Sedang yang lain bersandar dan beristirahat di sebuah pohon besar
“Ayo Moure, kita mulai memetik bunga! Kau yang paling ahli dalam merangkai bunga untuk ibuku” aku mengajak Moure beerlari ke tengah lembah. Kita berdua mulai memetik bunga yang ada sambil tertawa riang. Yang lain entahlah ada di mana. Mungkin ada di sisi lembah yang lain.
Aku masih sibuk memetik bunga ketika aku merasakn ada yang aneh di sekitarku. Aku menengok kebelakang. Moure masih memetik bunga walau jarak kita sekarang agak menjauh. Hmm. Aku kembali merasakan ada mata yang mengawasiku. Aku agak ketakutan. Aku berbalik arah. Dan berniat kembali ke Moure. Aku baru berjalan beberapa langkah saat aku ditarik oleh tangan yang sangat kuat sekaligus sangatlah dingin. Ia mengunci kedua tanganku dan membekap kedua mataku.
Aku terkesiap dan berteriak kencang. Tubuhku terus meronta dan menolak tarikan itu, namun kekuatan dia jauh di atasku. Aku mendengar Moure berteriak memanggilku. Aku terus meronta dan berteriak meminta tolong. Aku begitu ketakutan dan panik. Apa yang terjadi sebenarnya? Siapa yang membekapku seperti ini?
Dia menyeretku entah kemana. Aku masih terus meronta dan aku mulai menangis histeris. Demi Zeus, aku tak pernah merasa setakut ini. Aku tak bisa mendengar suara Okeanid lagi, apa makhluk ini membawaku kesuatu tempat jauh? Kemana dia membawaku? Zeus, lindungilah aku..
Lalu tiba tiba aku merasa lemas dan aku hilang kesadaran.
*****
(To be continued) :)

You May Also Like

0 komentar

Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :)